Ya Abal Soleh Madadi!!

Loading...

Teman Seperjuangan

Belongings Of The Prophet P B U H

Anakku, Ibu Mencintaimu



Description:

Masa depan anak amat tergantung pada orang tua, khususnya ibu. Seorang (calon) ibu harus benar- benar menjaga kondisinya –baik fisik, psikis, maupun spiritual-- di masa sebelum hamil, masa kehamilan, serta masa pasca-persalinan dan menyusui, agar anak yang dilahirkan kelak dapat menjadi anak yang sempurna sebagaimana yang diharapkan.

Ibu harus memperhatikan gizi dan pola makannya, kesehatannya secara umum, aktivitas kesehariannya, kondisi mental dan spiritualnya, serta hal-hal lain yang sekiranya dapat mempengaruhi kehamilan, perkembangan janin, dan pertumbuhan anak. Anak yang terlahir sempurna, sehat fisik dan mentalnya, tentu memiliki potensi yang lebih besar untuk meraih berbagai kesuksesan dalam kehidupannya. Tanggung jawab ibu amatlah besar dalam hal ini, belum lagi ditambah dengan perubahan bentuk dan kondisi tubuh pascapersalinan yang sering kali membuat sebagian kaum ibu merasa stres dan rendah diri. Hal ini terkadang menjadi masalah tersendiri yang dapat mengganggu proses pengasuhan anak. Buku ini hadir untuk menjawab kebutuhan para ibu dan calon ibu.

Dalam buku ini- dengan berpedoman pada ilmu kedokteran modern serta apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. dan keluarganya- penulis menjelaskan apa saja yang harus dilakukan dan dihIndari di masa sebelum hamil, masa kehamilan, serta masa pascapersalinan dan menyusui. Dengan gaya bahasanya yang sederhana dan mudah dicerna, penulis benar- benar memandu para ibu dan calon ibu dalam “menangani” tubuh dan (calon) anaknya dari A sampai Z; dari mulai bersetubuh hingga menyusui, dari mulai menyapih anak hingga senam pascapersalinan, semuanya dibahas tuntas. Selamat menjadi ibu!

Pengarang : Sima Mikhbar
ISBN : 9793249684
Tahun Cetak : 2004
Bahasa : Indonesia
Tipe Sampul : Soft Cover
Jumlah Halaman : 240
Ukuran : 13 x 20.5 cm

Sumber: http://www.eurekabookhouse.com/product_info.php?products_id=1384

&&&&&&&&&&&


Kelopak mata wanita muda itu tiba-tiba terlihat berkaca-kaca. Nampak sekali ia sedang berupaya untuk menahan tetes-tetes air matanya. Namun rasa duka yang memenuhi relung-relung jiwanya membuatnya tak bisa lebih lama lagi menahan air matanya. Tangis sedih wanita berkerudung itupun meledak. Air matanya mengalir deras membasahi kedua pipi merahnya. Hatinya seperti tertusuk sembilu. Dari dalam sukmanya membuncah rasa gundah. Rasa pedih yang datang mendera tak kunjung pergi menepi. Air mata wanita itu tak jua mereda.

Di tengah isak tangisnya, wanita itu berbisik lirih, “Ustadz Hamy, rasa sesal tiba-tiba memenuhi rongga jiwa saat ustadz menjelaskan bahwa tidak ada anak yang nakal, yang ada hanyalah orang tua yang semakin tidak sabar. Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanyalah anak yang menonjol di salah satu atau beberapa kecerdasan majemuk. Karena itu jadilah bidadari yang membahagiakan anak-anak Anda, jangan menjadi monster yang mengerikan mereka. Memang, boleh jadi Anda tidak akan pernah bisa menjadi orang tua yang sempurna, akan tetapi yakinlah bahwa insya Allah Anda bisa menjadi orang tua yang hebat bagi mereka.”

Isak tangis ibu muda berputra dua itu semakin menjadi-jadi saat menguraikan nestapa yang mendera jiwanya. Wajah cantiknya terlihat berduka ketika mengungkapkan lara yang menyelimuti hatinya. “Ustadz Hamy memang benar. Bekal saya untuk menjadi ibu yang hebat bagi buah hati saya masih sangat kurang. Sering saya mendidik ananda seperti dahulu ibu saya mendidik anak-anaknya,” kata wanita itu sambil terisak-isak. “ Sudah tak terhitung rasanya kata-kata bodoh, nakal, kurang ajar menerjang jiwa ananda. Sulit dihitung sudah berapa kali tubuh mungil itu teraniaya oleh ayah bundanya,” imbuhnya.

Ibu muda itu tak sendirian. Ibu-ibu lain yang mirip dengannya sangat banyak jumlahnya. Bekal mereka tentang buah cintanya sangat kurang. Paradigma mereka tentang buah hatinya banyak yang keliru. Mereka tidak mengerti tentang fase tumbuh kembang lambang cintanya. Karena itu tanpa mereka sadari, sikap mereka justru sering membunuh rasa ingin tahu anak-anak mereka. Bentakan mereka justru sering menghambat laju tumbuh kembang jiwa putra-putri mereka. Kekerasan mereka sering membuat potensi kecerdasan majemuk ananda tidak bisa tumbuh optimal justru di saat mereka berada dalam masa usia emas.

Namun ibu muda itu mempunyai bekal berharga untuk menjelma menjadi ibu yang hebat bagi kedua buah cintanya. Rasa sesal dalam hatinya dapat menjadi pemicu untuk mengisi detik-detik kehidupannya dengan terus meningkatkan pemahamannya tentang anak. Duka lara yang menyelimuti jiwanya dapat membuat dirinya terus berusaha memiliki ketrampilan untuk mendampingi buah hatinya dengan penuh cinta. Rasa pedih yang menghiasi hatinya dapat membuat setiap waktunya menjadi waktu-waktu yang hebat untuk putra-putrinya.

Ia akan mengerti bahwa tubuh-tubuh mungil itu membutuhkan asupan makanan yang bergizi, bukan racun nikotin. Wajah-wajah tanpa dosa itu memerlukan kecupan mesra, bukan tamparan. Jiwa-jiwa suci itu mendamba cinta kasih, bukan caci maki. Hati-hati bening itu mengharap pujian, bukan bentakan. Mereka memerlukan jemari tangan ibunya untuk membelai rambut mereka dengan penuh cinta. Mereka membutuhkan pundak ibunya untuk menggendongnya. Mereka menginginkan lengan kita untuk mendekap mesra tubuh mungilnya. Anak-anak kita itu selalu menanti bisik lirih kita, “ Anakku, Ibu mencintaimu. “

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=64725696242

Ya Rasulillah! Ya Maulana!

Loading...